Metode Montessori: Tujuan, Prinsip, dan Contoh Kegiatannya

Aktivitas & Hobi - Kegiatan Montessori di Rumah untuk Anak-01

Metode Montessori adalah kegiatan belajar yang memberi kebebasan pada anak untuk menemukan minat dan bakatnya. Apa keunggulan dan kekurangan metode pembelajaran ini? Yuk, disimak!

Sebagai orang tua, Ayah dan Bunda pasti menginginkan yang terbaik untuk sang buah hati, terutama dalam aspek pendidikan. Tak jarang, masih banyak yang kebingungan ketika memilih metode belajar yang cocok dengan karakter anak. Penggunaan metode atau kurikulum yang tepat akan membantu tumbuh kembang si kecil menjadi lebih optimal.

Salah satu metode pembelajaran yang terkenal adalah Montessori. Apakah Ayah Bunda pernah mendengar istilah ini? Jika belum, kita bahas bersama ya!

 

Pengertian dan Sejarah Metode Montessori

Montessori adalah metode pembelajaran yang menitikberatkan pada pengembangan potensi individu dengan memberikan kebebasan belajar dan menggunakan peralatan belajar yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

Sesuai dengan namanya, metode ini dikembangkan dan diaplikasikan oleh Dr. Maria Montessori pada tahun 1907 di sebuah sekolah untuk anak usia 3-6 tahun di Italia. Seiring berjalannya waktu, Metode Montessori dievaluasi, disempurnakan, dan diaplikasikan ke sekolah-sekolah lain di luar Italia, tak terkecuali Indonesia.

 

Tujuan Metode Montessori

  1. Membantu anak untuk menemukan minat dan bakatnya
  2. Mengembangkan potensi kognitif, emosional, sosial, dan motorik anak secara menyeluruh
  3. Meningkatkan kepercayaan diri, kreatifitas, rasa empati, dan ketertarikan dalam mempelajari hal-hal baru

 

Baca juga: 7 Cara Meningkatkan IQ Anak dan Faktor yang Mempengaruhinya

 

Kegiatan Montessori untuk Anak(Sumber: Haibunda.com)

 

Prinsip Dasar Montessori

1. Menghormati Pilihan Anak

Dalam metode Montessori, guru dan orang tua memberi kebebasan pada anak untuk menentukan pilihan sendiri dan berkonsentrasi pada aktivitas yang ia sukai. Anak dibiarkan untuk menggali minat dan bakatnya masing-masing. Sebagai orang tua atau guru, tugas Anda adalah mendampingi, memberi fasilitas, dan mendukung anak untuk mencapai tujuannya.

 

2. Anak Menyerap Apapun yang Ada Di Sekitar

Prinsip Montessori yang kedua adalah membiarkan anak belajar dari lingkungan sekitar secara spontan. Di usia 0 sampai 6 tahun, anak menyerap semua informasi layaknya spons. Mereka mempelajari kosakata, cara bersikap, dan motorik dasar. Fase enam tahun pertama tadi menjadi dasar pembentukan karakter anak. Menurut Dr. Maria Montessori, fase ini dibagi menjadi 2, yaitu:

a. Tahap Bawah Sadar (0 – 3 tahun)

Pada tahap bawah sadar, anak belajar bergerak dan berbicara tanpa mengetahui tujuannya. Contoh, seorang bayi yang bisa tengkurap atau telentang dengan sendiri tanpa dibantu oleh orang tua. Di tahap ini, anak juga belajar berkomunikasi lewat apa yang ia dengar sehari-hari.

b. Tahap Sadar (3 – 6 tahun)

Menginjak usia 3 sampai 6 tahun, anak mulai menyadari tujuan dari aktivitas yang ia lakukan. Kemampuan menyerap dan mengingat huruf, angka, serta bunyi semakin tajam. Anak akan memilah apa yang mereka sukai dan tidak mereka sukai. Sebagai orang tua atau guru, Anda harus mengetahui bahwa setiap anak memiliki minat yang berbeda.

3. Lingkungan Belajar yang Disesuaikan

Metode Montessori berusaha menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak. Oleh sebab itu, ruang kelas atau ruang belajar di rumah perlu diatur sedemikian rupa guna mendukung proses belajar. Anda bisa mengajak anak untuk menentukan warna cat yang ia sukai atau buku yang mereka ingin baca. Peralatan belajar yang tersedia juga harus sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak-anak.

 

4. Pendidikan Mandiri

Seperti yang dijelaskan di awal, peran guru dan orang tua pada metode Montessori adalah sebagai fasilitator. Anak diberi kebebasan untuk belajar apapun yang ia sukai dengan alat-alat yang disediakan. Hal ini mendorong anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Tugas guru dan orang tua yaitu menciptakan suasana belajar yang nyaman, memberi dukungan, dan inspirasi agar anak mampu mencapai tujuan yang diinginkan.

 

Baca juga: 10 Cara Mudah Mengajarkan Anak Membaca di Rumah

 

5. Lima Periode Penting dalam Pembelajaran

Metode Montessori meyakini bahwa anak-anak melewati 5 periode, area, atau tahapan penting untuk tumbuh dan berkembang, yaitu:

a. Keteraturan atau Kecakapan Sehari-hari

Periode ini mencakup kegiatan sehari-hari seperti makan, berpakaian, dan membersihkan diri. Anak-anak belajar melalui pengalaman praktis yang rutin, seperti mencuci tangan, menyisir rambut, memakai sepatu, dan lain sebagainya.

b. Bahasa

Periode Bahasa mengacu pada pengembangan bahasa anak, termasuk belajar berbicara, menulis, dan membaca. Anak-anak belajar melalui kegiatan seperti mengobrol, menulis surat, dan membaca buku.

Fase belajar bicara dimulai dari 7 bulan sampai 3 tahun saat anak meniru suara dan gerakan mulut orang lain. Fase menulis dapat diajarkan sejak usia 3 atau 4 tahun, sedangkan keterampilan membaca bisa diasah ketika anak menginjak usia 4 sampai 5 tahun.

c. Matematika

Periode atau fase Matematika mencakup pengenalan konsep matematika seperti bilangan, ukuran, dan geometri. Anak-anak belajar melalui mainan dan peralatan yang dirancang khusus untuk membantu mereka memahami konsep-konsep ini.

d. Sensorial dan Motorik

Pada area sensorial, anak berusaha memahami dan menyempurnakan fungsi dari 5 panca indera, yaitu melihat, mendengar, meraba, mengecap, dan mencium.

Sedangkan area motorik dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama saat anak merangkak, berdiri, dan berjalan di usia 0 sampai 2 tahun. Tahap kedua ketika anak mulai memperkuat cengkeramannya dan memegang benda dengan kedua tangannya, seperti bermain ayunan, mendorong kereta mainan, dan sebagainya.

e. Sosial dan Emosional

Periode terakhir dari metode pembelajaran Montessori adalah sosial emosional. Anak-anak belajar tentang diri mereka sendiri, perasaan mereka, dan interaksi dengan orang lain melalui kegiatan seperti bermain, berbicara, dan menyelesaikan masalah. Anak juga menyadari pentingnya etika dalam berinteraksi dengan sesama, seperti meminta maaf saat berbuat salah dan mengucapkan terima kasih.

Baca juga: 5 Tips Mengembangkan Kemampuan Sosial Emosional pada Anak

 

Contoh Kegiatan Montessori

Tidak hanya di sekolah, kegiatan montessori juga bisa dilakukan di rumah, lho. Berikut ide aktivitas atau permainan berbasis prinsip Montessori yang Ayah Bunda bisa praktikkan bersama anak:

1. Membuat Kalung

Kegiatan ini bertujuan melatih kemampuan motorik anak dalam memegang benda yang kecil dan melatih konsentrasi serta kesabarannya. Anak-anak sangat mudah teralihkan konsentrasinya dan kesabaran mereka pun masih rendah. Nah, dengan permainan ini konsentrasi dan kesabaran anak bisa terlatih dengan baik.

Peralatan yang Anda butuhkan cukup sederhana untuk membuat permainan ini. Anda hanya perlu menyiapkan sedotan, gunting, serta benang wol. Gunting sedotan kecil-kecil terlebih dahulu. Lalu, kumpulkan dalam satu wadah khusus. Selanjutnya, minta anak untuk meroncengnya menjadi gelang atau kalung yang cantik. Meski terlihat mudah, namun banyak anak yang kehilangan kesabaran dalam membuatnya.

 

2. Menyusun Puzzle

Puzzle adalah salah satu mainan yang sangat cocok untuk anak-anak. Tidak hanya bisa melatih keterampilan motorik halus, puzzle diketahui juga bisa melatih keterampilan memecahkan masalah pada anak. Selain itu, puzzle dapat menanamkan kebutuhan anak kecil akan keteraturan. Saat anak mengerjakan puzzle, anak dapat mengoreksi sendiri kesalahannya, dengan demikian, ia dapat belajar cara memperbaiki kesalahan tersebut.

 

3. Melukis dengan Jari

Kegiatan Montessori di Rumah untuk Anak(Sumber: Rinso.com)

Melukis menggunakan jari memungkinkan anak untuk mengeksplorasi menggunakan keterampilan sensoriknya. Kegiatan ini juga merupakan kesempatan untuk anak mengenal warna, dan melihat apa yang terjadi ketika warna-warna dicampur secara bersamaan. Saat anak melukis dengan jari, ini tidak hanya bisa mengeksplorasi sisi kreatif mereka, namun juga mengembangkan koordinasi tangan, mata, serta membantu meningkatkan keterampilan motorik halus anak. Melukis dengan jari membantu anak belajar cara mengingat berbagai warna dan kombinasi warna yang dapat menghasilkan warna baru.

 

4. Menuang dan Menyendok

Kegiatan montessori lainnya yang dapat membantu melatih kesabaran anak adalah permainan menuang dan menyendok. Anda dapat menyediakan dua buah toples, biji kacang hijau, serta sebuah sendok. Permainan ini cukup mudah untuk dilakukan, Anda hanya perlu meminta anak untuk memindahkan kacang hijau dari toples A ke toples B dengan menggunakan sendok. Bagi Anda, kegiatan ini terlihat sangat mudah. Namun, untuk beberapa anak, mereka bisa kesulitan menyelesaikannya karena tidak bisa konsentrasi dan tidak sabar. Selain melatih kesabaran dan konsentrasi, permainan ini juga membantu melatih motorik dan sensorik anak Anda.

 

5. Membuat Lilin Mainan

Plastisin atau lilin mainan mudah ditemukan di pasaran. Namun, beberapa orang tua kadang khawatir dengan keamanan produknya. Apalagi jika ini dimainkan oleh anak-anak yang masih kecil dan rawan untuk mereka masukkan ke dalam mulut. Jadi, agar lebih aman, Anda dapat mengajak anak membuat plastisin sendiri di rumah. Bahan yang dibutuhkan tidak banyak, hanya tepung terigu, pewarna makanan serta air.

Cara Membuat Plastisin di Rumah(Sumber: Diadona.id)

Setelah semua bahan tersedia, tuangkan tepung terigu ke dalam wadah secukupnya, dan tambahkan air sedikit demi sedikit. Lalu campur hingga menyatu dan dapat dibentuk. Setelah itu, bagi menjadi beberapa buah, dan warnai dengan beraneka ragam warna sesuai keinginan anak. Permainan ini bertujuan untuk mengasah sensorik, motorik, serta mengenal tekstur dan warna.

 

6. Basah dan Kering

Kegiatan Montessori terakhir yang dapat dilakukan anak Anda di rumah adalah mengenal tekstur basah dan kering. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan memberikan mereka beberapa potong kapas bahasa dan kapas kering. Lalu, mintalah anak Anda untuk mengelompokkan kapas basah dan kapas kering ke dalam wadah yang berbeda. Melalui permainan ini anak dapat mengasah motoriknya, sehingga Ia bisa dengan mudah mengenal berbagai tekstur.

 

Kelebihan dan Kekurangan Metode Montessori

Sebelum memilih Metode Montessori, ada baiknya jika Ayah dan Bunda mengetahui kelebihan dan kekurangan dari sistem belajar ini. Montessori umumnya cocok diterapkan bagi anak dengan gaya belajar kinestetik, yang menggabungkan proses berpikir serta aktivitas fisik. Namun, anak dengan gaya belajar auditori dan visual juga bisa mencoba metode ini.

Nah, keunggulan dari Metode Montessori yaitu mengajarkan anak untuk mandiri, mengembangkan kemampuan bersosialisasi, membantu anak dalam menemukan potensi tersembunyi yang ada pada dirinya, serta menumbuhkan rasa percaya diri.

Akan tetapi, Metode Montessori juga memiliki beberapa kelemahan. Dikarenakan anak diberi kebebasan dalam belajar, maka guru dan orang tua akan sulit menentukan standar penilaian untuk mereka. Selain itu, sekolah yang menerapkan Metode Montessori mungkin lebih mahal dibanding sekolah biasa.

Masih ragu untuk mendaftarkan anak ke sekolah Montessori? Yuk, coba kelas gratis di Altaschool. Menggunakan metode belajar blended learning dengan live teaching dan aktivitas mandiri, Alta School fokus mengembangkan minat dan kreativitas anak sejak usia dini.

Altaschool adalah homeschooling yang diperuntukkan untuk jenjang PAUD hingga SD kelas 4. Anak diajak bereksperimen dengan berbagai kegiatan menarik, modul kit, dan bimbingan karakter. Tersedia kelas bilingual juga, lho.

CTA Blog Alta School

Sumber:

Metode Pendidikan Montessori [Daring]. Tautan:

https://hellosehat.com/parenting/anak-1-sampai-5-tahun/perkembangan-balita/metode-pendidikan-montessori/

https://www.haibunda.com/parenting/20201013094847-61-166883/mengenal-metode-montessori-yang-efektif-mendidik-anak-usia-dini

Kegiatan Montessori [Daring]. Tautan:

https://www.popmama.com/kid/1-3-years-old/sarrah-ulfah/tak-perlu-taman-kanak-kanak-lakukan-7-kegiatan-montessori-di-rumah/7

https://www.popmama.com/kid/1-3-years-old/jemima/kegiatan-montessori-di-rumah-untuk-anak-usia-3-tahun/7

Prinsip Montessori [Daring]. Tautan:

The Absorbent Mind

https://montessorifortoday.com/the-5-montessori-principles-what-they-are-and-how-to-apply-them/

Sumber Gambar:

Anak Bermain Puzzle [Daring]. Tautan: https://www.haibunda.com/parenting/20171119153952-61-9976/bisa-dicoba-di-rumah-3-kegiatan-montessori-matematika-untuk-balita

Anak Melukis dengan Jari [Daring]. Tautan: https://www.rinso.com/id/sustainability/8-langkah-membuat-finger-painting-dan-bermain-seru-dengan-anak.html

Membuat Plastisin di Rumah [Daring]. Tautan: https://www.diadona.id/family/cara-membuat-plastisin-sendiri-di-rumah-yang-mudah-dan-aman-buat-mainan-anak-200826c.html

Salsabila Nanda